Wisdom of Crowd

hari ini tarawih kedua di bulan ramadhan 1434 H.

di komplek tempat tinggal saya , panitia mulai beralih dari yang sepuh kepada yang lebih muda. generasi kedua dari perumahan ini. generasi kedua ini membawa hasil belajar agama yang lebih progresif dari generasi sebelumnya yang lebih tradisional, diantaranya ingin menghilangkan dzikir bersama terpimpin di sela sela shalat tarawih kami yag 4-4-3.

di tarawih pertama kemarin diumumkan “ bapak ibu..” diantara shalat nanti tidak ada dzikir bersama , jadi dimohon untuk berdoa dan berdzikir sendiri sendiri , kata panitia. beruntung khatib yang memberikan tausiyah di hari pertama cukup bijak. karena sebelum taushiyah beliau mengajak jamaah untuk latihan dzikir yang akan dibaca nanti diantara shalat. walaupun sudah berbilang tahun ikut tarawih, pasti akan beda rasanya untuk mengubah kebiasaan dzikir. sayangnya surat yang dibaca pak khatib yang merangkap sebagai imam shalat malam itu, terlalu panjang untuk ukuran kampung kami, walaupun masih lebih pendek dibandingkan tarawih di masjid kampus UGM

shalat subuh hari berikutnya, bapak, yang malam harinya ngisi ceramah di masjid tetangga ngisi ceramah. biasa pengganti pak kumala yang tidak hadir, agaknya beliau berijtihad untuk berpuasa keesokan harinya. di khutbah subuh itu bapak biasa muter muter kesana kemari, cerita , menitir ayat. hingga sampai saatnya beliau berkata .

waktu saya akan lebih banyak di masjid ini, saya akan jadi imam dan suratnya pendek pendek. insyaAllah sebelum jam 8 sudah rampung “gerr” suara jamaah di belakang itupun masih tergantung khatibnya , maka saya sarankan panitia untuk membatasi ceramah khatib jadi maksimal 15 menit, karena kita masih ada tarawih. terdengar kesetujuan dari riuh rendah suara jamaah di belakang

malam harinya, lagi lagi bapak yang ceramah. isinya memotivasi agar semua orang mengambil kesempatan maksimal di bulan ini, beserta tadabbur ayat dan hadist yang menurut saya dibuat bombastis. sehingga kesannya semua orang punya kesempatan yang sama untuk meraih lailatul qadar , untuk masuk syurga. setelah 15 taushiyah , bapak juga yang jadi imam shalat tarawih malam itu. bacaannya surat pendek dari al fiil sampe annas dibaca secar reverse. diantara shalat 4 rakaat, bapak langsung berinisiatif untuk memimpin dzikir , dan jamaah pun menyambut dengan syahdu.. sepertinya yang begini lebih pas buat mereka.

experience over knowledge.

pengalaman sebagai kiai kampung berpuluh tahun membuat bapak bisa membaca suasana psikologis jamaah, kapan materi remeh temeh, kapan dan kepada siapa materi yang lebih berat.

likulli maqol mahal, li kulli mahal maqol

setiap perkataan ada tempatnya, setiap tempat ada perkataannya, walaupun mungkin hadist yang menunjukkan bahwa tidak ada dzikir bersama lebih kuat , tapi kebiasaan masyarakat yang sudah mengakar tidak bisa dirubah dalam semalam.

Jatimulyo Baru , 2 Ramadhan 1434H

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s