Arsip Tag: mmdiary

Refleksi akhir semester : finance

Tulisan ini adalah refleksi tentang finance sebelum ujian akhir semester,  2 jam lagi

Corporate finance ato yang lebih dikenal dengan financial management adalah pelajaran paling pedes yang ada di semester satu. Mas iwan, salah satu partner saya yang juga lulusan mm ugm jaman dulu pernah bilang kalo finance adalah pelajaran yang bikin tekanan batin selama di MM.  Jaman sekarang belum berubah hehe
Aneh bin ajaib, seperti sambel semakin pedes semakin dicari. konsentrasi finance di semester 3 nanti udah  full booked, ternyata banyak juga yang meminati mata kuliah yang penuh asumsi ini :-). Bandigkan dengan konsentrasi marketing atau human resource yang mahasiswa harus nambah duit karena kelasnya kurang.

Well im not big fans of finance, from the begining, apalagi denger cerita cerita begitu, semakin menguatkan azzam ALF (asal lulus finance). Menurutku finance should be practical, seperti yang diajarin ligwina hananto atau aidil akbar dengan financial check upnyo.  Kalo dihadapkan sama financenya perusahaan,  buat aku pribadi, its too complicted andnot fully connected :-).

Setelah mengelola perusahaan sendiri baru ngerti kalo ternyata finance ini harus diperhatiin bener bener, sehingga perusahaan berjalan dengan efektif dan efisien.  Tempo hari,  waktu sekelas kunjungan ke panti jompo, aku menemukan bahwa banyak diantara mbah kakung dan mbah putri ini, yang pada mas jayanya ndak merhatiin kesehatan finance, sehingga mereka ngga siap saat masa sulit datang…biarpun mereka dulunya artis, atau politisi handal. Tidak ada yang tersisa dari meka kecuali penyesalan mereka dan pelajaran untuk generasi mendatang

Finance itu penting sodara,  employ the best finance employee 🙂

Iklan

membeli kebahagiaan

sesi terakhir kuliah business ethics di semester ini adalah presentasi Victor Llory dan Ibnu Mirza dengan lakon bocornya minyak BP di teluk meksiko, kelas dibagi empat dan dibuat roleplay, dan kami kebagian jadi villiannya | dem

tapi sesi pertama kita diskusi tentang Generousity 2.0 , tentang nipun mehta , seorang profesional di sillicon valley yang berubah jadi filantropis setalah pengalamannya dibantu orang miskins dalam perjalanannya di India. lalu dia menggalang dukungan dari temen temennya buat ngajarin IT dan menyebarkan pesan kebijaksanaan via internet. just give and never expect to get back. ternyata itu yang jadi kunci bahagianya

Gambar
http://mindmatter.me/michael-norton-how-to-buy-happiness/

gara gara diskusi pancingan ini aku jadi inget tentang filem pay it forward, buku why good things come to good people  dan ceramahnya michale norton di TEDtalks. dengan tema yang sama how to buy happiness. menariknya si norton ini sama sama mahasiswa MBA , bedanya dia di harvard hehe. dan mendasarkan speechnya pada data data penelitian

fyi ya, tedtalks itu adalah forum, dimana para ekspert atau yang merasa punya ide menarik dalam bidang dan issue tertentu untuk berbicara paling lama 20 menit. jadi se ekspert ekspertnya orang dia diminta untuk merangkum kepakarannya ituh dalam ceramah 3- 20 menit. pastilah yang diomongin yang super penting aja

norton mulai persentasinya tentang gimana membeli kebahagiaan, dia bilang kalo anda punya duit tapi ngga bikin bahagia berarti ada kesalahan tentang gimana cara ngabisin duit tersebut. serius. terus dia nampilin hasil penelitian eksperimen kalo ada pengaruh orang yang orientasi menghabiskan uang  dengan   tingkat kebahagiaan seseorang.

di penelitian itu, subjek penelitian dikasih duit dengan jumlah sama di dalam amplop tertutup, bersama duit di dalem amplop ada kertas yang isinya pesen sponsor hehe, maksudnya instrusksi penelitian. setelah sebelumnya diukur tingkat kebahagiaannya orang yang ngabisin itu duit untuk orang lain mengalami peningkatan kebahagiaan dibandingkan sebelumnya, sedangkan yang ngebisin buat diri sendiri ? nope. ga ngefek ke kebahagiaannya.

penelitian ini kemudian diulang di berbagai bidang, di olahraga, penjualan, keluarga dan pendidikan..hasilnya sama tindakan prososial mempengaruhi kebahagiaan seseorang.  

Business Ethics: tentang workers strike februari kemaren

tahu kalo seisi kelas pada ngantuk nyelesein paper marketing buat nanti siang, ibu dewi , dosen business ethics kami mengeluarkan ajian andalannya,

tadinya kami berharap ajian yang dikeluarkan adalah ajian  jajanan dari kantin di bawah seperti tempo hari, tapi ternyata yang dikeluarkan adalah ajian andalan , class group assignment. case dibagikan , kelompok dibentuk dan

in next fifteen minuetes we will discuss

kali ini bahasan kasusnya adalah tentang buruh mogok besar besaran di kawasan industri di karawang dan sekitarnya, mereka mogok karena tuntutan mereka untuk menaikkan upah tidak dituruti perusahaan tempat mereka bekerja.

Gambar

padahal di lain sisi , perusahaan asing seperti, samsung, nikem honda sudah dapet untung yang sangat besar dari pabrik pabrik mereka di indonesia, dan Indonesia termasuk dalam negara yang punya upah tenaga kerja paling murah se asia, lebih murah dari india atau bahkan china

dampak dari labour strike ini  cukup serius, karena ini adalah aksi mogok terpanjang yang pernah dilakukan para buruh, kegiatan industri macet. trigger kejadian ini, yaitu ditolaknya gugatan buruh untuk menaikkan umr oleh pengadilan Bekasi bahkan dibatalkan sehari kemudian , setelah terjadi mediasi antara pemerintah jawa barat, pengusaha dan buruh.

pemerintah punya kepentingan berbeda, kalo mogok terus , investor akan melirik tempat investasi yang lebih aman .dan mereka pun khawatir.

diskusi ini menarik karena sebelumnya kita baru aja membahas masalah the rational structure dan the political organization. kalo yang pertama ada lapisan lapisan dan tata kelola yang jelas, jelas perannya, siapa bos, siapa pekerja.

political model melihat organisasi sebagai kompetisi atau koalisi kekuasaan, dan strukturnya pun tidak beraturan . siapa yang memiliki kekuatan, dai memiliki posisi tawar lebih baik

. dalam kasus ini, ofederasi buruh membuat buruh memilik posisi tawar lebih terhadap pengusaha dan pemerintah

menurut romzi, dengan pertimbangan finance tentunya, interest di Indonesia lebih tinggi daripada negara negara tentangga, thats why  pada mau pindah, dan buruh berada pada posisi tawar yang lemah.

tapi apa iya, itu jadi satu satunya pertimbangan dalam berinvestasi, toh nyatanya dengan rate yang tinggipun perusahaan asing itu masih bisa untung besar di Indonesia, dan menaikkan upah buruh yang tidak banyak , rasanya kok masih bisa ya

di ujung diskusi kita dapet insight kalo sebetulnya yang bikin perusahaan keberatan itu bukan kenaikan upah buruh yang ngga seberapa itu, tapi ini masalah kepastian . kepastian macem macem, kepastian keamanan usaha dan kepastian biaya yang harus dikeluarkan , perusahaan, karena prinsip akuntabilitas kan ndak mengenal uang uang yang muncul di tengah jalan.  perusahaannya galau gituh 😀